Sabtu, 09 April 2016

CANDI BRAHU 





Jejak peninggalan Kerajaan Majapahit masih dapat terlihat hingga kini. Sebagai kerajaan yang kekuasaanya konon mencapai Madagaskar (Afrika Selatan) itu, juga memiliki seni arsitektur yang cukup tinggi. Terbukti hingga saat ini Kerajaan Majapahit banyak meninggalkan candi, khususnya di wilayah Mojokerto yang diduga sebagai pusat kerajaan semasa diperintah Raja Hayam Wuruk.

Salah satunya adalah Candi Brahu di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Candi setinggi 9,6 meter itu terdiri dari tumpukan batu bata berbagai ukuran. Meski tanpa semen sebagai perekat antara batu bata satu dan lainnya, namun Candi Brahu tetap berdiri kokoh hingga saat ini. 


Nama candi ini, yaitu 'brahu', diduga berasal dari kata wanaru atau warahu. Nama ini didapat dari sebutan sebuah bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Alasantan. Prasasti tersebut ditemukan tak jauh dari Candi Brahu.






Candi Brahu dibangun dengan batu bata merah, menghadap ke arah barat dan berukuran panjang sekitar 22,5 m, dengan lebar 18 m, dan berketinggian 20 meter.

Candi Brahu dibangun dengan gaya dan kultur Budha. Diperkirakan, candi ini didirikan pada abad ke-15 Masehi meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa candi ini berusia jauh lebih tua daripada candi-candi lain di sekitar Trowulan.


Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok bertanggal 9 September 939 (861 Saka), Candi Brahu disebut merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja. Akan tetapi, dalam penelitian tak ada satu pakar pun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Hal ini diverifikasi setelah dilakukan pemugaran candi pada tahun 1990 hingga 1995. 

Diduga di sekitar candi ini banyak terdapat candi-candi kecil. Sisa-sisanya yang sebagian sudah runtuh masih ada, seperti Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah, dan Candi Gentong. Saat penggalian dilakukan di sekitar candi banyak ditemukan benda benda kuna, semacam alat-alat upacara keagamaan dari logam, perhiasan dari emas, arca, dan lain-lainnya.
sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Candi_Brahu





Jumat, 08 April 2016

HOTEL MAJAPAHIT SURABAYA, SAKSI SEJARAH YANG TETAP MEGAH






HOTEL MAJAPAHIT SURABAYA TEMPO DULU

Sejarah sebuah bangunan akan tetap terkenang sepanjang masa. Apalagi jika kenangan tersebut yang menggiring sebuah kota mendapatkan “nama julukan”. Surabaya dengan ikon Kota Pahlawan pun berasal dari sebuah tragedi penting dimana Hotel Majapahit Surabaya turut menjadi saksinya.



Di Hotel Majapahit inilah, Belanda mengibarkan benderanya sementara Indonesia pada saat itu sudah berhasil merebut kemerdekaan dan sudah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun, arek Suroboyo yang melihat kesengajaan Belanda mengibarkan bendera tersebut memicu perdebatan antara Indonesia-Belanda yang masing-masing dipimpin oleh Jenderal Soedirman dan Mr. W.V.Ch Ploegman. Karena tak menemukan titik temu, emosi para arek Suroboyo membuatnya ada yang naik ke atas Hotel Majapahit Surabaya (dulu masih bernama Hotel Yamato) untuk merobek bendera Belanda yang berwarna biru. Sehingga yang berkibar adalah warna merah-putih, warna bendera Indonesia.

Menurut sejarah, Hotel Majapahit Surabaya ini bukanlah nama pertama melainkan sudah berganti nama berkali-kali. Berikut tahap pergantian nama dan perkembangan yang terjadi sesuai dengan urutan tahunnya:

Tahun 1910: pertama kali dibangun dengan nama Oranje Hotel atau Hotel Oranye oleh Sarkies bersaudara (bangsawan keturunan Armenia)
Tahun 1936: ada renovasi di bagian depan hotel. Artis bernama Charlie Chaplin dan Paulette Goddard menghadiri peresmian hotel
Tahun 1942: berubah nama menjadi Yamato Hoteru atau Hotel Yamato karena penjajah Jepang masuk ke Indonesia dan menguasainya
Tahun 1945: berubah nama menjadi Hotel Merdeka atau Hotel Liberty untuk sementara waktu, karena warga Surabaya melakukan aksi perobekan bendera Belanda yang berwarna biru (dari merah-putih-biru) dan disertai dengan teriakan “Merdeka” sehingga tertinggal hanya berwarna merah-putih
Tahun 1946: berubah nama menjadi Hotel LMS (Lucas Martin Sarkies)
Tahun 1969: disebut sebagai Hotel Majapahit karena pada masa itu terdapat kerajaan besar yang dikenal dengan Majapahit
Tahun 1996: hadir dengan wajah baru setelah restorasi ± 2 tahun lamanya. Hotel ini pun dijuluki sebagai Mandarin Oriental Majapahit Hotel Surabaya.
Tahun 2006: 10 tahun dari 1996, Majapahit kembali menjadi hotel terkemuka di Surabaya dan tetap menyandang nama Hote Majapahit Surabaya.


HOTEL MAJAPAHIT SURABAYA MASA KINI




Hotel bintang lima dan megah ini tidak jarang dipilih sebagai hotel idaman karena unsur sejarah tersebut. Bangunan putih dengan art-deco memberikan fasilitas  yang lumayan banyak dan mewah. Desain interior Hotel Majapahit Surabaya saat ini pun dibuat tetap klasik supaya berkesan sebagai bangunan bersejarah. Jenis perabot yang digunakan memang sedikit banyaknya mengikuti gaya tatanan hotel yang ada di negeri Belanda.




sumber : http://hellosurabaya.com/hotel-majapahit-surabaya-saksi-sejarah-yang-tetap-megah/