Sabtu, 26 Maret 2016

GEDUNG JUANG DHD 45




Berlokasi di Jl. Mayjend. Sungkono, dalam wilayah Surabaya Barat yang diresmikan oleh presiden Suharto pada tanggal 17 April 1993. Selain berfungsi sebagai kantor dewan harian daerah 45 provinsi Jawa Timur juga sebagai pendukung keberadaan organisasi ini dalam mengumpulkan data autentik yang berkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa dan memepertahankan identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan yang menampilkan semangat 45.
Gedung ini terdiri dari 3 lantai, pada lantai 1 merupakan ruang utama atau lobi untuk menerima tamu-tamu penting. Di tengah ruangan beridiri patung kolonel Sungkono yang berjuang pada masa revolusi dan akhirnya menjadi pimpinan angkatan bersenjata divisi Jawa Timur dengan jabatan terakhir Mayor Jendral. Sisi kiri dan kanan ruang utama disediakan ruangan untuk exibisi maupun kegiatan lainnya.
Bentuk bangunan yang artistik memiliki arti filosofi perjuangan bangsa dan misi generasi 45. Pada bagian depan terdapat ukiran yang bebentuk kolom yang melambangkan bamboo runcing merupakan senjata tradisional yang digunakan dalam perang revolusi 45. Di gedung ini disimpan beda-benda bersejarah dan dokumen-dokumen dan foto-foto kemerdekaan. Pada lantai 3 dengan kapasitas 1000 orang dapat digunakan untuk pesta perkawinan atau resepsi , seminar, konferensi dan lain-lain.




Ketika kita mendengar kata Gedung Juang DHD 45, kita pastinya sudah identik dengan Gerbong mautnya. Yah, Gedung Juang DHD 45 ini mempunyai sebuah gerbong asli yang menjadi saksi bisu atas meninggalnya 38 pejuang didalam gerbong tersebut. Sebenarnya ada 3 gerbong yang sama tetapi 2 gerbong berada di museum Brawijaya di Kota Malang dan 1 gerbong berada di Gedung Juang DHD 45 di Kota Surabaya.




Gambar diatas merupakan Gerbong yang berada di Gedung Juang DHD 45, yang terkenal dengan nama Gerbong Maut. Yah, Gerbong itulah yang mejadi saksi bisu atas meninggalnya 38 pejuang. Bayangkan gerbong tersebut merupakan gerbong barang dan dan tentunya gerbong barang tidaklah cocok untuk penumpang karena tidak mempunyai fentilasi udara, tetapi hal tersebut tidak berlaku dijaman penjajahan Belanda. Gerbong tersebut dijadikan alat transportasi dari Bondowoso - Surabaya. Gerbong tersebut di isi 38 penumpang dan diberangkatkan dari Kota Bondowoso menuju Kota Surabaya. Setiba di Surabaya 38 penumpang di gerbong tersebut meninggal, tidak ada satu pun yang hidup dikarenakan ke-38 penumpang tersebut tidak menghirup oksigen karena gerbong tersebut adalah gerbong barang.

Hingga sekarang, Gerbong maut tersebut masih utuh dan keberadaannya ada di Gedung Juang DHD 45, Surabaya. Banyak juga hal-hal misteri mengenai gerbong tersebut, bahkan penjaga Gedung Juang seringkali mendengar suara orang meminta tolong dan suara tersebut berasal dari dalam gerbong maut. Jika anda tidak percaya mengenai cerita mistis tersebut, anda bisa datang lansung ke Gedung Juang DHD 45 yang berlokasi di Jl.Mayjen Sungkono, Surabaya barat. Jika anda penakut, saya sarankan lebih baik anda datang pada siang hari, di siang haripun suasananya juga cukup menakutkan. Tetapi jika ingin menguji nyali anda, saya menyarankan datanglah pada malam hari, karena tentunya Hantu identik dengan malam hari. Pasti anda akan merasakan keberadaan mahkluk di dunia lain. Salah satunya suara teriakan para pejuang tersebut.

sumber : http://www.surabayatourism.com/det_obyek.php?ID=6&lang=1
http://sesusatu.blogspot.co.id/2012/11/sisi-lain-gedung-juang-dhd-45.html?m=1







Kamis, 10 Maret 2016


Kolam Segaran Majapahit

KOLAM SEGARAN  BANGUNAN PENINGGALAN HINDU BUDHA YANG ADA DI MOJOKERTO.

A.  Deskripsi tentang Seputar Kolam Segaran

Kolam segaran pertama kali ditemukan oleh seoran Belanda, Ir. Marc Lain Pont bekerjasama dengan Bupati Mojokerto pertama yaitu Kromojoyo pada tahun 1926. Sejak ditemukan hingga saat ini, telah beberapa kali dilakukan pemugaran yaitu pada tahun 1966, 1974, dan 1984. Bagi Kabupaten Mojokerto Kolam Segaran merupakan salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit, yang dituahkan dan dibanggakan masyarakat Trowulan khususnya dan Mojokerto pada umumnya. Nama Kolam Segaran berasal dari bahasa Jawa 'segara' yang berarti 'laut', mungkin masyarakat setempat mengibaratkan kolam besar ini sebagai miniatur laut. Tembok dan tanggul bata merah mengelilingi kolam yang sekaligus memberi bentuk pada kolam tersebut.Kolam ini memiliki panjang 375 meter, lebar 175 meter, tebal tepian 1,6 meter dengan kedalaman 2,88 meter. Sebagai pembatas, kolam ini menggunakan konstruksi batu bata. Dan uniknya, batu bata tersebut hanya ditata sedemikian rupa tanpa perekat dan hanya digosok – gosokkan satu sama lain. Saluran air masuk ke kolam ada di bagian tenggara. Sedangkan di sebelah selatan sudut timur laut dinding sisi luar terdapat 2 kolam kecil berhimpitan, sementara di sebelah barat sudut timur terdapat saluran air menembus sisi utara. Di bagian tenggara terdapat saluran air masuk ke kolam dan saluran air keluar di bagian barat laut. Sumber air kolam berasal dari Balong Bunder dan Balong Dowo yang berada di sebelah selatan dan barat daya kolam. Dan pintu masuknya terletak di sebelah barat, dengan bentuk tangga batu kuno. Selain dari dua sumber air tersebut, air dalam kolam Segaran juga berasal dari air hujan. Oleh karena itu, kolam tersebut selalu dipenuhi air dengan ketinggian 1,5 hingga 2 meter selama musim penghujan, namun konon kolam ini meskipun terjadi hujan lebat tapi kolam sgaran ini tak pernah banjir atau meluap dan sebaliknya meskipun kola mini di dalam masa kemarau yang panjang tetap saja debit airnya masih ada dan tak pernah kering. Letak Kolam Segaran sekitar 500 meter arah selatan jalan raya Mojokerto – Jombang, dan sekitar 5 meter dari Pusat Purbakala di Mojokerto. Dengan ukuran yang sangat besar itu, kolam yang menjadi salah satu simbol kejayaan Kerajaan Majapahit ini, diakui beberapa ahli anthropologi nasional sebagai kolam kuno terbesar di Indonesia. 0Kisah mistis keberadaan kolam ini, diawali saat pemugaran pertama dengan penemuan bandul jaring, kail pancing dari emas, dan sebuah piring berbahan emas dalam kondisi 60%. Semua penemuan itu tersurat di salah satu dinding Museum Trowulan. Posisinya di sebelah kanan batu Surya Majapahit. Konon, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengadakan pesta besar karena kedatangan duta dari Tiongkok, angkatan perang negeri Tartar. Raja menyuguhkan hidangan dengan perkakas dari emas, mulai nampan, piring sampai sendok. Para tamu puas dan menilai, Majapahit memang negara besar yang patur dihormati. Setelah pesta usai, sebelum para tamu pulang, Hayam Wuruk ingin memperlihatkan kekayaan Kerajaan yang terkenal sebagai negeri gemah ripah loh jinawi. Semua perkakas dari emas itu dibuang ke Kolam Segaran, tempat dimana pesta itu dilangsungkan. Karena benda-benda itu terkubur begitu lama, keberadaannya dikuasai makhluk gaib. Untuk mengangkat harta karun itu bukan persoalan gampang karena harus berhadapan dengan lelembut yang menguasai benda-benda tersebut. Tapi konon menurut cerita dari juru kunci pak Kuntoro di kolam segaran tersebut pada dasar  kolam dulunya dipasangkan jarring, gunanya untuk mengangkat kembali barang-barang yang telah dibuang di kolam segaran tersebut.


B.  Fungsi Kolam Segaran

            Kolam segaran  ini bpada masa Kerajaan Majapahit berfungsi sebagai waduk dan penampung air, yang merupakan wujud kemampuan Kerajaan Majapahit akan teknologi bangunan basah, para ahli memperkirakan kolam ini sama dengan kata ”Telaga” yang disebut dalam kitab Negarakertagama.
Selain itu, ada cerita yang menyebutkan bahwa kolam tersebut sering dimanfaatkan para Maharaja Majapahit untuk bercengkerama dengan permaisuri dan para selir kedatonnya. Kolam tersebut juga digunakan Maharaja Hayam Wuruk untuk menjamu tamu agung dari Kerajaan Tiongkok. Fungsi yang lain yaitu untuk tempat bersantai para putri – putri raja, seperti yang telah disebutkan dalam kitab Negarakertagama di pupuh ke 38 yakni
Keindahan Bureng: telaga bergumpal air jernih. Kebiru‐biruan,   ditengah: candi  karang  bermekala. Tepinya rumah  berderet,  penuh  pelbagai  ragam  bunga.  Tujuan  para  pelancong   penyerap sari kesenangan)




kolam Segaran juga difungsikan sebagai tempat penggemblengan para ksatria laut Majapahit. Namun pada masa sekarang kolam ini juga sering digunakan sebagai tempat berwisata untuk para masyarakat sekitar, selain itu kolam ini juga digunakan sebagai tempat untuk menyimpan cadangan air warga setempat dan kolam ini juga berfungsi sebagai tempat irigasi untuk mengairi sawah sawah warga di Trowulan. ini menyimpulkan bahwa, pembuatan kolam Segaran memiliki prioritas utama penunjang perekonomian rakyat, khususnya dibidang pertanian. Itu terbukti dari fungsinya saat ini sebagai waduk pengairan untuk sawah sawah masyarakat sekitarnya, selain itu dalam hari-hari besar keagamaan para pemeluk agama Hindu-budha tempat ini juga biasa digunakan untuk upacara larung saji masyarakat bali yang sengaja melakukan ritual di kolam segaran ini.


C. Hubungan Terhadap penduduk sekitar yang beragama islam

Menurut salah seorang warga sekitar yang saya temui beliau bernama pak parto beliau bekerja sebagai pencari ikan di kolam segaran Majapahit, beliau menerangkan bahwa tempat ini juga sering digunakan oleh warga sekitar yang mayoritas beragama islam sebagai tempat diadakan upacara Desa yang biasanya di sebut Ruah Desa, tempat ini pun juga biasanya digunakan sebagai tempat meminta ijin kepada para leluhur jika salah seorang warga mau mengadakan acara pernikahan maupun acara selamatan lainnya, karena kolam segaran ini masih dipercaya mempunyai andil besar terhadap mata pencaharian warga setempat disamping digunakan sebagai pengairan sawah warga( irigasi) juga digunakan sebagai tempat membudidayakan ikan, begitu kata pak parto yang sekaligus beliau juga pernah menemukan seekor ikan yang memiliki keanehan yang lain dari ikan pada umumnya, yaitu ikan ini pada kepalanya berbentuk seperti seekor buaya sedangkan badanya menyerupai badan ikan normal pada umumnya.
sumber: http://sejarah-andychand.blogspot.co.id/2012/05/kolam-segaran-bangunan-peninggalan.html?m=1